Jumat, 14 Agustus 2020

Menemukan Muhammadiyah

Menemukan Muhammadiyah
Dr. Muhammad Fahmi Akbar*

Perjalanan hidup seseorang akan sangat ditentukan dari lingkungan tempat ia hidup. Sayangnya tidak semua mendapat lingkungan yang ideal. Salah satunya kader Muhammadiyah.

Menjadi kader bukanlah satu cita-cita. Biasanya di awali dari pertemuan yang tidak di sengaja. Bertemu teman, bersekolah, ikut organisasi pelajar atau lainya, hingga berpartisipasi dalam momentum tertentu.

Tentu jalan dan jalur berliku ini dialami oleh banyak kader. Sehingga menjadi kader militan dan siap menjadi pelolpor dan pelanjut persyarikatan Muhammadiyah. Karenanya jubah yang telah dikenakan janganlah dikotori dengan mengungkit masa lalu. Dari mana dia berasal, kapan masuk organisasi, apakah berasal dari perguruan Muhammadiyah? dan lain sebagainya.

Bila hal tersebut terus berlansung, maka persyarikatan ini akan menjadi kerajaan kultus ananiyah. Ya, sistem yang hanya boleh diisi oleh orang dia, kenalan dia, bahkan keturunan dia.

Muhammadiyah bukanlah organisasi kekeluargaan, namun lebih pada organisasi keumatan. Dilahirkan dari umat dan untuk umat. Berkaca dari sana maka kaderisasi tidak boleh mengklasifikasikan kader berdasarkan masa lalu. Karena tidak satupun diantara kita menemukan Muhammadiyah sejak lahir.
----------------------------------
Jakarta, 31 Juli 2020
*Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Barat.

Memaknai Kemerdekaan Pandemi

Memaknai Kemerdekaan di Masa Pandemi
Dr. Muhammad Fahmi Akbar

Masa pandemi seperti masa penjajahan. Tidak ada kebebasan, sewaktu-waktu jadi korban, bahkan sulit untuk berkembang.

Bagi orang yang beriman, sejatinya seluruh rangkaian peristiwa yang dialami harus menjadi penyemangat dalam beramal. Sebab disanalah letak kekuatan sebenarnya yaitu ketika dihadapkan pada kondisi menantang.

Pertama, merdeka beramal. Merdeka beramal tanpa ada keadaan yang menekan dirinya. Sanggup berdakwah, berinfak, bahkan berjihad dalam kondisi sesulit apapun. (Al Imran:134)

Kedua, tetap waspada terhadap kemungkinan terburuk. Kewaspadaan ini menuntut bekal yang cukup. Bekal kesabaran sebagai modal mendapat keberuntungan. (Al Imran:200) Tanpa kesabaran hanya akan menuai kegagalan. Sebagaimana kisah perang Uhud. Karena tidak sabar ingin mendapatkan gonimah alih-alih membuat celaka Rasulullah.

Ketiga, bekerja dengan perhitungan. Tidak semua harus dikerjakan dan tidak semua harus selesai hari ini. Di tengah pandemi, perlu ada skala prioritas. Menimbang yang lebih utama serta mengerjakan bertahap sebagian yang lain. (Az Zumar:39)

Perasaan terjajah hanya dimiliki oleh mereka yang terjajah. Karena itu merdeka adalah sikap mental para pejuang. Jadilah para pejuang yang akan mengisi hidup ini dengan kualitas amal yang terbaik.
Merdeka!!

------------------------
Jakarta, 9 Agustus 2020

Jumat, 10 Juli 2020

Empat Kuadran Mukmin

Empat Kuadran Manusia*
Dr. Muhammad Fahmi Akbar

Rasulullah berpesan "Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah". Hadist ini memberikan informasi bahwa menjadi mukmin harus kuat dalam berbagai segi kehidupan.

Secara umum kuat dibagi dua, kuat iman dan akal. Kondisi tersebut jika dipetakan dapat menjadi 4 kuadran. 

Kuadran pertama, kuat iman dan kuat akal. Bagi kelompok ini perlu membimbing kelompok yang lain. Merekalah yang disebut khaira ummah. (Al Imran:104)

Kuadran kedua, kuat akal lemah iman. Kelompok ini perlu diingatkan agar akal mereka tidak menjadi tuntunan. Imanlah yang seharusnya menjadi komandan. (Al Jatsiyah: 23)

Kuadran ketiga, kuat iman lemah akal. Kelompok ini bisa jadi mayoritas. Kelompok ini kadang menjadi korban figuritas dan sasaran empuk musuh Allah. Karenanya butuh bimbingan agar akalnya dapat berfungsi membedakan baik, buruk, haram, halal, dsb. 

Jangan sampai umat ini seperti makanan yang akan diserbu dari segala penjuru dan buih di lautan (H.R Abu Daud 3745)

Kuadran keempat, lemah iman dan lemah akal. Kelompok ini harus diselamatkan. Mereka tidak menyadari bahkan mengajak kuadran lain bergabung bersamanya.

Bila tidak mungkin diselamatkan maka perlu mengambil jarak dengan kelompok tersebut agar fitnah yang muncul nanti tidak berdampak pada kuadran lain. (Al Anfal: 25)

Posisi kuadran saat ini tergantung kesadaran masing-masing. Berada pada posisi manakah kita? 
---------------------------------
*Disampaikan dalam khutbah jum'at 10 Juli 2020

Selasa, 15 April 2014

PUISI SDN KEBON JERUK 15 JAKARTA

GEMPA BUMI
by. diaz
saat bumi berguncang
tangisan makhluk terdengar keras
karena adanya gempa bumi

semua orang keluar dari rumah maupun gedung
yang penting semua selamat
oh Tuhan mengapa engkau menurunkan bencana
apa kita salah memelihara dunia ini

karena bencanalah yang membuat susah
karena bencanalah yang membuat bahaya
karena itulah sebabnya
makhluk hidup menjadi mati

gempa bumi
kau telah merusak alam ini
karena gempa bumi
keindahan alam menjadi hilang

TSUNAMI
by erfanto
Tsunami kau telah datang
kau sudah merusak semua rumah
lambaian orang-orang pada alam
tetesan air mata terdengar
rumah-rumah hancur
kesedihan alam terlihat

kini semua lenyap
kini semua hancur

suara tangisan terdengar dimana-mana
saat ini aku ditinggal ayah dan ibu

tsunami kau jangan terjadi lagi
kau membahayakan semua orang
tolong jangan terjadi lagi

tsunami kau zat dari Tuhan
kalau zat dari Tuhan aku terima

tsunami terimalah ini
kau akan menjadi pengalaman

Tuhan sekali lagi aku minta maaf
karena aku berdusta padamu
Tuhan turunkan zatmu agar tidak 
terjadi lagi padaku

NASIB SUNGAI
by leilani
 lihatlah kawan
nasib sungai itu
sungai itu sudah ternodai

ternodai oleh 
tangan-tangan manusia
manusia yang usil
dan tidak bertanggung jawab

tidak memelihara
dan melestarikan alam
mereka malah merusaknya
mengapa mereka merusaknya?

sungai bertanya tanya
mengapa engkau memasukkan limbah?
memasukan limbah ke dalam tubuhku

tubuhku yang bersih menjadi kotor karenamu
aku mohon jangan membuang limbah ke sungai lagi